Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Aku Bicara Perihal Cinta

Aku Bicara Perihal Cinta Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia, Walau jalannya sukar dan curam. Dan apabila sayapnya memelukmu menyerahlah kepadanya Walau pedang tersembunyi diantara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya. Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimi bagai angin utara mengobrak abrik taman Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia kan menyalibmu. Sebagaimana dia ada tuk pertumbuhanmu, Demikian pula dia ada tuk pemangkasmu. Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu, dan membelai mesra ranting-rantingmu nun paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari Kutipan bait Kahlil Gibran

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku Jauh di Pulau Cintaku jauh di pulau Gadis manis, sekarang iseng sendiri Perahu melancar, bulan memancar di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar angin membantu, laut terang, tapi terasa aku tidak ‘kan sampai padanya Di air yang tenang, di angin mendayu di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja.” Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh! Perahu yang bersama ‘kan merapuh Mengapa Ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! Manisku jauh di pulau, kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri. By : CHAIRIL ANWAR

Senja di Pelabuhan Kecil Buat Sri Ayati

Senja di Pelabuhan Kecil Buat Sri Ayati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap. by : CHAIRIL ANWAR